A.    Inti Masalah
Fenomena geosfer seperti perubahan iklim yang terjadi di dunia ini merupakan masalah yang sudah sangat global di hadapi oleh setiap Negara. Perubahan iklim tersebut tidak lepas dari akibat aktivitas manusia sehari-hari.

B.     Penyebab Terjadinya Fenomena Perubahan Iklim
Adapun sebab terjadinya fenomena perubahan iklim yaitu sbb :
1                Penebangan Hutan
Atmosfer     bumi    terdiri  dari  beberapa    jenis  dan   lapisan  gas.  Salah   satu   gas   yang   penting   adalah   karbon   dioksida,  umumnya         dikenal    sebagai     CO2.  Kegiatan      manusia  seperti    manufaktur,    transportasi   dan   penebangan      hutan  menyebabkan        terjadinya   pelepasan     karbon   dioksida   ke atmosfer. 
Peningkatan konsentrasi karbon dioksida dan gas lainnya,   yang   dikenal   sebagai   gas   rumah   kaca,   membuat  atmosfer     menahan      lebih  banyak    panas    dari  matahari,  sehingga meningkatkan suhu di bumi yang mengakibatkan  pemanasan global. Kondisi ini juga dikenal sebagai efek gas  rumah kaca. Karbon dioksida memiliki pengaruh lebih besar  pada   pemanasan   global   dibandingkan   gas   lainnya,   karena  proporsi yang lebih banyak diantara gas rumah kaca lainnya di   atmosfer.  Selain   struktur   fisik   gas   yang   mengakibatkan  seberapa besar kontribusinya pada efek gas rumah kaca.
Temperatur     di  atmosfer    akan   sangat   menentukan      cuaca  dan    pola   iklim.  Sehingga   perubahan     tingkat   kandungan  karbon     dioksida   di  atmosfer    dapat   memicu     perubahan  yang tak terduga dalam sistem cuaca dan kemudian pada  pola iklim bumi. Semakin tinggi suhu atmosfer maka akan  memperparah kondisi cuaca.
Hutan, berikut tanah yang berada di bawahnya, yang ada di seluruh dunia saat ini diperkirakan menyimpan lebih dari satu triliun ton karbon. Jumlah ini dua kali jumlah karbon yang ada di  atmosfer atau setara dengan berat sekitar 2,000 kali berat total dari 7 miliar  anusia yang hidup di dunia, dengan perkiraan berat rata-rata 70 kg per orang.
Ketika hutan mengalami peningkatan   kepadatan   maupun   luas,   hutan   akan   berperan   sebagai   “penyerap   karbon”, karena mereka mengambil karbon yang ada di atmosfer dan menyimpannya. Sebaliknya,  hutan   juga   dapat   menjadi   “sumber   emisi   karbon”   dan   penyebab   perubahan   iklim,   jika semua  hutan  ditebangi,   diubah   peruntukannya   dan   hilang.   Kita   dapat   membayangkan berapa besar karbon dioksida yang akan dilepaskan kembali ke atmosfer dalam kondisi yang  demikian. Hal ini akan menyebabkan perubahan yang besar pada cuaca dan sistem iklim.  Mempertahankan hutan secara utuh akan membantu mengurangi emisi karbon dioksida di atmosfer dan juga memperlambat efek perubahan iklim. Penebangan hutan sering di lakukan untuk pembukaan lahan baru seperti penanaman sawit dan perkebunan lainnya,

               Penggunaan Gas CFC (Chloro Fluoro Carbon)
Ancaman yang diketahui terhadap keseimbangan ozon adalah kloroflorokarbon (CFC) buatan manusia yang meningkatkan kadar penipisan ozon menyebabkan kemerosotan berangsur-angsur dalam tingkat ozon global.
CFC digunakan oleh masyarakat modern dengan cara yang tidak terkira banyaknya, dalam kulkas, bahan dorong dalam penyembur, pembuatan busa dan bahan pelarut terutama bagi kilang-kilang elektronik.
Masa hidup CFC berarti 1 molekul yang dibebaskan hari ini bisa ada 50 hingga 100 tahun dalam atmosfer sebelum dihapuskan. Dalam waktu kira-kira 5 tahun, CFC bergerak naik dengan perlahan ke dalam stratosfer (10 – 50 km). Di atas lapisan ozon utama, pertengahan julat ketinggian 20 – 25 km, kurang sinar UV diserap oleh ozon. Molekul CFC terurai setelah bercampur dengan UV, dan membebaskan atom klorin. Atom klorin ini juga berupaya untuk memusnahkan ozon dan menghasilkan lubang ozon.
Chloro Fluro karbon (juga disebut CFC) adalah gas terdiri dari tiga unsur Klor, Fluor dan Carbon. Mereka pernah digunakan secara luas sebagai pendingin dalam kulkas dan sebagai pendorong dalam kaleng aerosol. Saat itu ditemukan pada akhir 1970-an dan awal 1980-an bahwa CFC dari kulkas tua dan rusak dan kaleng aerosol tua secara bertahap menemukan jalan masuk ke bagian atas atmosfer di mana mereka merusak lapisan ozon.
Cloro floro carbon juga menjadi salah satu pemegang andil dalam gas efek rumah kaca. Gas efek rumah kaca disebabkan oleh  karena naiknya konsentrasi gas karbondioksida (CO2) dan gas-gas lainnya di atmosfer. Kenaikan konsentrasi gas CO2 ini disebabkan oleh kenaikan pembakaran bahan bakar minyak (BBM), batu bara dan bahan bakar organik lainnya yang melampaui kemampuan tumbuhan-tumbuhan dan laut untuk mengabsorbsinya.


3          Pembakaran Sampah
Laporan juga menyebut bahwa sampah mempunyai kontribusi besar terhadap meningkatnya emisi gas rumah kaca.Apa pasal? penumpukan sampah tanpa diolah akan melepaskan gas metana (CH4). Setiap 1 ton sampah padat menghasilkan 50 kg gas metana. Dengan jumlah penduduk Indonesia yang terus meningkat, diperkirakan pada 2020, sampah yang dihasilkan sekitar 500 juta kg/hari atau 190 ribu ton/tahun. Hal tersebut berarti, Indonesia akan mengemisikan gas metana ke atmosfer sebesar 9.500 ton. Jika tidak mengambil tindakan menguranginya,UNEP (United Nations Environment Programen) diperkirakan akan terjadi kekurangan air di timur tengah, hilangnya delta sungai Nil, pencairan es disertai tanah longsor dan masih banyak lagi.
Sampah yang menumpuk akan berpengaruh pada perubahan iklim akibat adanya kenaikan temperatur bumi atau yang lebih dikenal dengan istilah pemanasan global. Seperti yang telah kita ketahui bahwa pemanasan global terjadi akibat adanya peningkatan gas-gas rumah kaca seperti uap air, karbondioksida (CO2), metana (CH4), dan dinitrooksida (N2O). Dari tumpukan sampah ini akan dihasilkan ber ton-ton gas karbondioksida (CO2) dan metana (CH4).

     C.    Akibat Dari Fenomena Perubahan Iklim
1            Akibat Pada Manusia
Persediaan Pangan Terancam
Kenaikan suhu udara 1-2ºC akan menyebabkan produktivitas sereal merosot di belahan Bumi bagian selatan. Kenaikan suhu udara di atas 4ºC akan menurunkan produksi pangan di seluruh dunia.

Kesehatan Memburuk
Kenaikan suhu udara di atas 1ºC akan mengancam kondisi kesehatan sebagai akibat kekurangan gizi, penyakit diare, penyakit karena infeksi, kekeringan, panas tinggi, dan sebab-sebab lain.

Persediaan Air Menipis
Kenaikan suhu hingga 1ºC akan mengurangi persediaan air dan meningkatkan kekeringan di beberapa wilayah ekuator. Kenaikan suhu di atas 1ºC akan menimbulkan banjir, kekeringan, erosi, dan kualitas air yang semakin menurun. Naiknya air laut akan memperluas pengasinan air tanah sehingga menurunkan persediaan air tawar bagi daerah-daerah di pesisir pantai. Ratusan juta orang akan menghadapi kekurangan air.

Perpindahan Penduduk dan Konflik
Stres yang disebabkan oleh meningkatnya kekeringan, kekurangan air, dan banjir di daerah aliran sungai maupun di pesisir pantai akan memaksa penduduk mencari tempat tinggal baru, baik itu di dalam negaranya sendiri maupun memasuki negara lain. Hal ini dapat memicu konflik dan ketegangan antara penduduk lama maupun baru.
Sungai-sungai dunia sedang berada dalam “kondisi krisis” pada skala global. Persediaan air untuk hampir 80% dari populasi dunia sedang sangat terancam. Hampir sepertiga dari sumber air yang dikaji diketahui juga terancam akibat kehilangan keanekaragaman hayati.22,23 (US researchers Professor Peter McIntyre of the University of Wisconsin-Madison and City College of New York modeler Charles Vörösmarty)
Persediaan air Timur Tengah sudah menyusut sampai seperempat dari tingkatnya pada tahun 1960.24 (Arab Forum for Environment and Development (AFED), 2010) Sungai Tigris dan Efrat menyusut sampai kurang dari sepertiga dari tingkat normalnya karena kekeringan.25 (UN Inter-Agency Information and Analysis Unit (IAU))
Kerajaan Inggris semakin panas, musim panas yang lebih kering dapat menyebabkan kekurangan air yang ekstrim karena aliran sungai berkurang 80%.26,27 (Britain’s Government Office for Science, 2010). Sumber-sumber dari air tanah untuk sumur, yang mendukung setengah dari populasi dunia kita, semakin mengering.28 (Lance Endersbee, Monasy University, Australia)  1,1 miliar orang kekurangan akses untuk air minum yang aman.29 (World Health Organization, 2005)
              Akibat Pada Hewan Dan Tumbuhan
Perubahan Iklim Membahayakan Kelangsungan Spesies Wilayah Tropis
Sebuah studi baru yang diterbitkan dalam Proceedings of the National Academy of Science menunjukkan bahwa hanya satu atau dua derajat pemanasan dapat menghilangkan spesies wilayah tropis. Ilmuwan dari Universitas Washington di AS telah menemukan bahwa flora dan fauna yang hidup di iklim tropis telah beradaptasi terhadap temperatur tertinggi yang dapat ditoleransi oleh mereka. Namun, sedikit saja kenaikan dalam pemanasan dapat menciptakan kondisi yang melampaui kemampuan spesies itu untuk beradaptasi. Para ilmuwan juga memperingatkan bahwa wilayah tropis mengandung mayoritas dari spesies dunia.
http://www.cbc.ca/consumer/story/2008/05/05/polar-bears.html

Keadaan Rapuh dari Tanaman Obat Membahayakan Kesehatan Publik
Suatu penelitian internasional yang dilakukan oleh Perlindungan Kebun Raya Internasional menunjukkan bahwa kira-kira 400 tanaman obat menghadapi resiko punah karena efek perubahan iklim pada ekosistem dan juga praktik-praktik seperti pemungutan hasil panen dan penebangan hutan yang berlebihan. Spesies-spesies tanaman obat yang terancam saat ini termasuk magnolia,
yang telah lama digunakan sebagai obat tradisionil China untuk kehilangan ingatan sehubungan dengan usia dan penyakit jantung. Lebih dari setengah resep obat dunia saat ini diambil dari tanaman. Selain itu mayoritas penduduk dunia tergantung dari obat-obatan berbasis tanaman. Pengarang laporan itu, Belinda Hawkins, menyatakan “Bukan suatu pernyataan yang berlebihan untuk mengatakan bahwa jika penurunan cepat dari spesies-spesies ini tidak dihentikan, maka hal ini dapat menurunkan stabilitas perawatan kesehatan global di masa mendatang.
http://www.naturalnews.com/023402.html

Pemanasan Global Mengakibatkan Migrasi Hewan
Penelitian telah menunjukkan bahwa 30 spesies reptil dan amfibi berpindah menuju tempat yang lebih tinggi ke ekosistem yang lebih dingin. Ahli biologi Christopher Raxworthy dari Museum Amerika untuk Sejarah Alam mengatakan bahwa pada akhirnya tidak ada lahan yang lebih tinggi yang tersedia. Dua spesies katak dan tokek sekarang berada dalam bahaya kepunahan.
http://news.xinhuanet.com/english/2008-06/18/content_8393537.htm

Perubahan Iklim dapat Membuat Spesies Burung Australia di Tepi Jurang Kepunahan
Dengan 10 spesies burung yang sudah punah dan 60 lainnya yang berada di ambang nasib yang sama. Profesor David Paton dari Unversitas Adelaide di Australia mengatakan, “Ada risiko nyata bahwa Anda akan kehilangan setengah spesies burung dari wilayah ini. Saya pikir itu adalah sesuatu yang tidak boleh ditolerir oleh masyarakat mana pun.” Profesor Paton merencanakan sebuah proyek berskala besar untuk menumbuhkan tanaman hingga 150.000 hektar di Gunung Lofty Ranges di Australia selatan yang akan melindungi flora dan fauna asli  dari kepunahan. Diperkirakan bahwa pekerjaan ini membutuhkan minimum hampir US$19 juta untuk meluncurkan Inisiatif Pemulihan Hutan. Dr. Paton optimis bahwa kehilangan spesies yang bertambah dapat dihindari jika habitat yang cocok dan subur dipulihkan kembali.
http://www.abc.net.au/news/stories/2008/06/18/2277949.htm?section=justin

Ikan-ikan Hiu Terancam Punah Akibat Perubahan Iklim
Studi baru-baru ini yang dimuat dalam jurnal Pelestarian Biologi menyatakan bahwa populasi dari banyak spesies ikan hiu yang berkurang dengan cepat membuat para ilmuwan prihatin tentang dampaknya terhadap ekosistem laut secara keseluruhan. Kelompok-kelompok pelestarian menyerukan agar dilakukan langkah-langkah global untuk melindungi ikan hiu itu, bahkan beberapa jenis hampir lenyap sama sekali.


Spesies Anjing Laut Pertama Kali Dideklarasikan Punah Akibat dari Kegiatan Manusia
Setelah tidak terlihat selama lebih dari 50 tahun, anjing laut di Karibia atau India Barat sekarang dinyatakan punah. Anjing laut subtropis yang pernah ditemukan secara berlimpah di Laut Karibia, Teluk Meksiko, dan sebelah barat Samudera Atlantik, pada dasarnya diburu sampai punah. Dua spesies berhubungan lainnya, anjing laut Mediteranian dan Hawai baru-baru ini terdaftar sebagai satwa yang terancam punah, dengan perlindungan intensif yang diperlukan untuk menghindari kepunahan mereka juga.
http://www.ens-newswire.com/ens/jun2008/2008-06-09-02.asp

Hewan primata lebih terancam daripada yang diperkirakan
Dr. Russell Mittermeier, Ketua dari Konservasi Internasional dan ketua dari Persatuan Internasional untuk Pelestarian Alam, telah melaporkan bahwa hampir separuh dari semua spesies monyet dan kera berada dalam ancaman kepunahan akibat kegiatan penebangan hutan dan perburuan untuk daging. Hal ini menunjukkan pengurangan hampir 10% dari sebuah penelitian yang dilaksanakan 5 tahun lalu. Dr. Mittermeier menyatakan, “Kami memiliki data yang kuat untuk menunjukkan bahwa situasi tersebut lebih parah daripada yang kita bayangkan.” Ia melanjutkan dengan berkata bahwa 304 spesies dari simpanse, orang hutan, kera berlengan panjang, dan kukang mungkin akan lenyap kecuali jika dilakukan tindakan yang cukup untuk melestarikan habitat mereka serta melindungi mereka.

Naiknya Kandungan CO2 di Atmosfer Mengganggu Kehidupan Laut

Para ilmuwan dari Universitas Plymouth di Inggris melakukan evaluasi dampak karbon dioksida yang diserap laut melalui sebuah studi di lubang CO2 alamiah yang ditemukan di Laut Mediterania. Studi tersebut menunjukkan bahwa di dekat lubang dasar laut ini, CO2 membuat air menjadi lebih asam dan mengakibatkan hilangnya keanekaragaman laut dalam perbandingan yang sama dengan pengasaman. Karena berkurangnya kalsium di air yang asam, kerangka keong menjadi hancur dan terumbu karang tidak dapat terbentuk. Dr. Carol Turley dari Laboratorium Laut Plymouth mengatakan, “Ini berarti satu-satunya cara untuk mengurangi  pengasaman laut adalah dengan pengurangan emisi CO2 dalam jumlah yang besar. Pengasaman laut sudah mulai terjadi, dan akan semakin bertambah dengan naiknya konsentrasi CO2 di atmosfer.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Top